0 0 Read Time:1 Minute, 0 Second Ratusan peternak ayam di Pati menyuarakan keresahan terkait kondisi usaha perunggasan. Harga jual yang rendah menjadi salah satu persoalan utama peternak. Keluhan peternak muncul ketika biaya produksi masih tinggi. Harga pakan menjadi beban karena tidak sebanding dengan harga jual hasil ternak. Kondisi tersebut berisiko menekan pendapatan peternak. Aksi protes peternak juga dilakukan dengan cara simbolis. Telur digunakan sebagai bentuk penyampaian kekecewaan terhadap kondisi pasar. Aksi serupa sebelumnya terjadi di Solo Raya dengan membagikan ayam hidup dan telur. Pemerintah sebenarnya telah menetapkan harga acuan baru bagi komoditas unggas. Harga ayam hidup ditetapkan minimal Rp19.500 per kilogram. Sementara itu, harga telur ditetapkan Rp24.000 per kilogram. Kebijakan tersebut mulai berlaku 15 Juli 2026. Kementerian Pertanian menyebut kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga. Pemerintah juga mendorong peningkatan penyerapan ayam dan telur melalui program pangan. Langkah tersebut diharapkan membantu memperbaiki harga di tingkat peternak. Masalah harga unggas menjadi perhatian karena menyangkut keberlanjutan peternakan rakyat. Pemerintah perlu memastikan harga acuan berjalan efektif di lapangan. Pengawasan distribusi juga penting agar peternak memperoleh harga yang sesuai. Bagi peternak di Pati, kepastian harga menjadi kebutuhan mendesak. Mereka berharap kebijakan pemerintah dapat memberikan solusi nyata. Dengan harga yang lebih stabil, keberlangsungan usaha peternakan diharapkan tetap terjaga. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Tyler Perez [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Ayah di Depok Cabuli Anak Kandung dengan Iming-iming Uang Rp 200 Ribu 2 Mahasiswa Simpan Narkoba di Kampus Simalungun, Edarkan ke Sesama Rekan