0 0 Read Time:2 Minute, 20 Second Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat – Masyarakat di Kabupaten Kayong Utara kembali mengeluhkan krisis air bersih di wilayahnya, meskipun warga telah rutin membayar retribusi bulanan untuk layanan air bersih. Kondisi ini semakin memprihatinkan, terutama saat musim kemarau ketika pasokan air kian menipis dan distribusi tidak berjalan normal. 📍 Keluhan Warga: Air Tidak Mengalir Meski Bayar Tagihan Warga di sejumlah kelurahan Kecamatan Sukadana menyatakan kekecewaannya karena distribusi air bersih tidak berjalan dengan baik meski sudah membayar tagihan retribusi tiap bulan. Warga merasa heran, karena Sukadana dikenal memiliki sumber mata air pegunungan yang melimpah, namun realitas di lapangan justru sebaliknya — banyak rumah mengalami gangguan pasokan atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan air bersih. Beberapa warga bahkan terpaksa membeli air dari pihak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi dan mencuci piring, dengan biaya yang cukup tinggi mencapai ratusan hingga hampir satu juta rupiah per bulan. Ini menjadi beban tambahan di tengah biaya hidup yang sudah tinggi. 💧 Masalah Utama: Debit Air Turun dan Pipa Hanya Mengeluarkan Angin Menurut Kepala UPT Pelayanan Air Bersih Dinas PUPR Kayong Utara, penurunan debit air menjadi penyebab utama terganggunya pasokan, terutama saat musim kemarau. Hal ini berdampak langsung pada ketidakmampuan sistem distribusi mengalirkan air ke rumah‑rumah warga secara normal. Warga juga mengeluh bahwa pipa hanya mengeluarkan angin, meskipun meteran air terus berputar dan tagihan tetap muncul setiap bulan. Situasi ini membuat warga merasa dirugikan karena tagihan dibebankan meskipun nyata‑nyata air yang mereka terima tidak mencukupi kebutuhan. 📉 Distribusi Air Tidak Efektif Program pemasangan meteran air yang dimulai sejak akhir 2025 seharusnya dapat meningkatkan layanan air bersih melalui pengukuran penggunaan yang lebih akurat. Namun, kenyataannya pemasangan meteran justru memunculkan keluhan baru karena lalu lintas tagihan tetap berjalan tanpa disertai peningkatan kualitas distribusi. Beberapa warga yang merasa dirugikan bahkan mempertimbangkan untuk mengajukan permohonan pembebasan atau keringanan biaya melalui mekanisme yang diatur, namun hal ini tentu membutuhkan proses administratif dan bukti kuat terlebih dahulu. 🛠️ Upaya Sementara dan Rencana Jangka Panjang Sebagai langkah jangka pendek, pihak dinas menerapkan jadwal buka‑tutup distribusi air untuk mengatur aliran yang terbatas. Namun langkah ini diakui belum sepenuhnya efektif untuk menjangkau seluruh wilayah. Untuk menghadapi tantangan jangka panjang, pemerintah daerah berencana meningkatkan kapasitas layanan dengan membangun reservoir baru dan menambah sumber air baku. Hal ini diharapkan bisa menjamin pasokan air lebih stabil di masa mendatang dan mengurangi gangguan ketika musim kemarau datang. Sementara itu, masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan memprioritaskan kebutuhan pokok sampai kondisi pasokan membaik. 📌 Kesimpulan: Warga Desak Perbaikan Pelayanan Air Bersih Krisis air bersih di Kayong Utara menunjukkan bahwa meskipun masyarakat telah membayar retribusi layanan air, masyarakat masih menghadapi tantangan serius dalam mendapatkan pasokan air yang cukup dan merata. Penurunan debit air, distribusi yang tidak efektif, serta tagihan yang tetap berjalan meski layanan belum optimal membuat warga menuntut adanya perbaikan layanan dan solusi nyata dari pemerintah daera Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Tyler Perez [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Cerita Singkat Penyelamatan Sanubari di Seruyan Jembatan Hidrolik di Pelabuhan Tarakan Masih Rusak, Sulit Cari Teknisi Ahli