0 0 Read Time:3 Minute, 7 Second Insiden tragis terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Putri Cempo ketika seorang petugas dilaporkan tewas setelah terjebak di dalam mesin pemilah sampah. Peristiwa yang mengejutkan ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan rekan-rekan kerjanya. Ironisnya, sebelum kejadian nahas tersebut, korban disebut sempat diminta untuk mengambil waktu libur oleh pihak internal. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban merupakan petugas operasional yang sehari-hari bertanggung jawab dalam proses pemilahan sampah di area mesin conveyor. Pada hari kejadian, ia tetap masuk kerja seperti biasa dan menjalankan tugasnya di lini pemrosesan. Namun, dalam situasi yang masih dalam penyelidikan lebih lanjut, korban diduga tersangkut di bagian mesin pemilah yang tengah beroperasi. Rekan kerja yang berada di lokasi sempat mendengar teriakan dan suara tidak biasa dari arah mesin. Mereka segera menghentikan operasional alat dan berupaya memberikan pertolongan. Sayangnya, kondisi korban sudah sangat parah ketika berhasil dievakuasi. Tim medis yang datang ke lokasi menyatakan korban meninggal dunia akibat luka berat yang dialaminya. Pihak pengelola TPST menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Mereka juga memastikan akan memberikan pendampingan serta hak-hak yang seharusnya diterima oleh keluarga sesuai ketentuan ketenagakerjaan. “Kami sangat berduka atas kejadian ini. Keselamatan kerja menjadi prioritas, dan kami akan melakukan evaluasi menyeluruh,” ujar salah satu perwakilan manajemen. Yang menjadi perhatian publik adalah informasi bahwa korban sebelumnya sempat diminta untuk beristirahat atau mengambil cuti. Sejumlah rekan menyebut korban terlihat kelelahan dalam beberapa hari terakhir karena intensitas pekerjaan yang cukup tinggi. Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah kondisi fisik korban berpengaruh langsung terhadap insiden tersebut. Dinas terkait pun turun tangan melakukan investigasi. Fokus pemeriksaan meliputi standar operasional prosedur (SOP), kelayakan mesin, serta penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Aparat kepolisian juga melakukan olah tempat kejadian perkara untuk memastikan tidak ada unsur kelalaian atau pelanggaran prosedur. Insiden ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan kerja di sektor pengelolaan sampah. Mesin pemilah sampah umumnya memiliki komponen bergerak dengan daya putar tinggi yang berisiko apabila tidak diawasi secara ketat. Pelatihan rutin, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta pengawasan teknis menjadi hal krusial untuk mencegah kecelakaan kerja. Beberapa pengamat ketenagakerjaan menilai bahwa kecelakaan kerja sering kali terjadi akibat kombinasi faktor manusia dan teknis. Kelelahan, kurangnya pengawasan, atau kerusakan alat dapat menjadi pemicu. Oleh karena itu, audit menyeluruh diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian di TPST tersebut. Sementara itu, keluarga korban berharap ada kejelasan dan tanggung jawab atas peristiwa ini. Mereka meminta agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan hasilnya disampaikan secara terbuka. “Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujar salah satu anggota keluarga. Pemerintah daerah menyatakan akan mengevaluasi sistem kerja di fasilitas pengolahan sampah tersebut. Selain memastikan kelayakan mesin, pihak berwenang juga akan meninjau ulang jadwal kerja dan beban tugas petugas lapangan. Evaluasi ini diharapkan mampu meningkatkan standar keselamatan sekaligus memberikan perlindungan lebih baik bagi para pekerja. TPST Putri Cempo sendiri merupakan salah satu fasilitas penting dalam pengelolaan sampah kota. Setiap hari, ribuan ton sampah diproses di lokasi tersebut. Dengan beban kerja sebesar itu, manajemen risiko dan pengawasan operasional menjadi tantangan tersendiri. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik sistem pengelolaan sampah yang berjalan setiap hari, ada para pekerja yang menghadapi risiko nyata. Keselamatan mereka harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas administratif. Penegakan SOP, inspeksi rutin, dan budaya kerja yang mengutamakan keselamatan perlu diperkuat secara konsisten. Hingga kini, proses penyelidikan masih berlangsung. Operasional mesin pemilah yang menjadi lokasi kejadian sementara dihentikan untuk kepentingan pemeriksaan teknis. Pihak berwenang berjanji akan menyampaikan hasil investigasi setelah proses selesai. Kematian petugas di mesin pemilah sampah ini meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan kerja dan masyarakat luas. Harapannya, dari tragedi ini lahir perbaikan sistem yang lebih baik, sehingga keselamatan para pekerja dapat terjamin dan insiden serupa tidak kembali terulang di masa depan. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Tyler Perez [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Sambat Gaji P3K Paruh Waktu di Surabaya Tak Kunjung Cair Mudik Gratis Jateng 2026 Siap Berangkat, 325 Bus dan Awak Lalui Pemeriksaan Ketat