0 0 Read Time:2 Minute, 15 Second Inflasi Kaltim Sepanjang 2025 Ungguli Capaian Nasional: Fakta, Penyebab, dan Dampaknya Sepanjang tahun 2025, Provinsi Kalimantan Timur mencatat tren kenaikan inflasi tahunan yang cukup signifikan dengan angka sekitar 2,68 % (year-on-year/y-o-y) pada Desember 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim. Angka ini menunjukkan tren kenaikan harga konsumen yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, di mana inflasi tahunan pada 2024 tercatat sekitar 1,47 %. Jika dibandingkan dengan capaian inflasi nasional Indonesia pada periode yang sama, data BPS menunjukkan bahwa inflasi nasional rata-rata berada di kisaran sekitar 2,7 %–2,9 % sepanjang 2025. Dari sini terlihat bahwa laju inflasi di Kaltim pada beberapa periode tertentu — terutama pada akhir 2025 — cenderung mengungguli atau mendekati angka nasional, mencerminkan tekanan harga yang relatif kuat di tingkat regional. Faktor utama yang memicu lonjakan inflasi di Kaltim sepanjang tahun lalu berasal dari kenaikan harga pada sejumlah komoditas pokok seperti makanan, minuman, tembakau, transportasi, dan layanan lainnya. Kelompok makanan dan minuman sendiri mengalami kenaikan signifikan mencapai beberapa persen tertinggi di antara kelompok pengeluaran lain. Selain itu, beberapa kota dan kabupaten di provinsi ini mengalami inflasi yang bervariasi: misalnya Kabupaten Berau mencatat inflasi tahunan tertinggi (sekitar 2,82 %), disusul Balikpapan dan Samarinda, sedangkan Penajam Paser Utara relatif lebih rendah sekitar 2,08 %. Kenaikan inflasi yang lebih kuat di Kaltim dibanding periode sebelumnya sekaligus masuk dalam kisaran capaian nasional menunjukkan dinamika ekonomi lokal yang mengalami tekanan dari sisi permintaan maupun pasokan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi daerah masih menunjukkan tanda-tanda positif, sehingga permintaan terhadap barang konsumsi tetap kuat. Namun di sisi lain, ada tantangan dalam stabilisasi harga bahan pokok akibat ketergantungan terhadap pasokan dari luar provinsi dan faktor logistik yang terkadang tidak seimbang. Kondisi cuaca ekstrem serta risiko gangguan pasokan pangan juga ikut memperkuat tekanan harga tertentu sepanjang tahun. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Balikpapan mencatat bahwa sebagian tekanan inflasi di daerah seperti Balikpapan disebabkan oleh komoditas pangan dan transportasi, termasuk kenaikan tarif angkutan udara selama periode liburan akhir tahun. Meski demikian, inflasi di kota tersebut sepanjang tahun tetap berada di dalam rentang sasaran Bank Indonesia yakni 2,5 % ±1 %, serta tidak jauh berbeda dengan angka nasional. Upaya pengendalian inflasi juga terus dilakukan lewat koordinasi antara pemerintah provinsi, BPS, dan BI serta melalui program stabilisasi harga dan edukasi masyarakat. Salah satunya melalui kampanye serta penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta pemantauan harga komoditas strategis secara berkala. Dampak dari inflasi yang lebih tinggi harus terus diantisipasi karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah. Pemerintah daerah bersama instansi terkait dituntut untuk meningkatkan efisiensi distribusi pangan, memperkuat pasokan lokal, serta memperkuat kebijakan pengendalian harga di pasar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memastikan kebutuhan sehari-hari masyarakat terpenuhi tanpa beban berlebihan. Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn About Post Author Tyler Perez [email protected] Happy 0 0 % Sad 0 0 % Excited 0 0 % Sleepy 0 0 % Angry 0 0 % Surprise 0 0 % Post navigation Baru Lulus PPPK, 2 ASN Satpol PP Terindikasi Pakai Narkoba – Terancam Dipecat